Hari Rabu kemarin tepatnya tanggal 25 Mei, mamanya Adit mengadakan ritual upacara Otonan sekaligus Mebayuh. Kali ini acara diadakan sedikit berbeda karena dilaksanakan langsung di Griya
( tempat tinggal sulinggih ).
Jalannya upacara secara keseluruhan dilaksanakan langsung oleh Ida Pedanda Griya Pangyangan.
Buda Pon Tolu adalah kelahiran mamanya Adit.
Untuk kesempatan kali ini semua sifat-sifat bawaaan yang di bawa sejak lahir terutama dari hal yang sifatnya buruk atau negatif dalam kelahiran agar dikurangi atau di netralisir dengan cara Mebayuh.
Makna lain dari serangkaian cara ini adalah sekaligus untuk memohon keselamatan, dan tidak lupa mengucap syukur pada karena Hyang Widhi masih diberikan kesempatan untuk hidup dan memperbaiki kehidupan.
Selain Otonan dan Mebayuh yang dikhususkan untuk mamanya Adit juga turut dilaksanankan upacara Mewinten bagi kami berdua dalam tingkatan yang terkecil.
Berikut adalah definisi singkat tentang Otonan, Mebayah, dan Mewinten yang diambil dari berbagi sumber:
Otonan
Berasal dari kata “pawetuan”, yaitu peringatan hari lahir menurut tradisi beragama Hindu di Bali yang didasarkan pada: Sapta wara, Panca wara, dan Wuku. Menurut sistem kalender wuku, maka hari kelahiran itu akan berulang setiap enam bulan atau 6 x 35 hari = 210 hari. Upacara Otonan dilaksanakan pertama kali saat usia bayi berumur 210 hari. Otonan ini biasanya dipimpin oleh seorang Pendeta, Pemangku atau orang yang dituakan dalam keluarga.
Mebayuh
Ada bayuh yang bersifat regular yaitu mebayuh setiap terjadi perubahan status misalnya dari anak – anak menjadi dewasa, dari belum menikah menjadi menikah, perubahan status menjadi orang tua ataupun menjadi kakek atau nenek. Disamping itu ada jenis mebayuh yang dilaksanakan jika ada hal – hal yang bersifat marabahaya, misalnya sering sakit, kecelakaan dan sebagainya. Banten mebayuh ada banyak jenisnya, tergantung jenis bayuh dan otonan yang mebayuh. Disamping itu setiap tempat mempunyai bentuk banten yang berbeda, ini mengacu kepada konsep desa kala patra, yaitu tentang kekayaan nilai lokal atau budaya setempat. Jika ingin mengetahui jenis mebayuh yang cocok, maka pedanda sarankan agar berkonsultasi langsung dengan pedanda atupun sulinggih yang lain. Disamping itu, agar tidak membingungkan dan tidak mengurangi keyakinan akan banten mebayuh tersebut, maka saat menanyakan mengenai banten mebayuh kepada pemangku atupun sulinggih, maka umat berhak menanyakan darimana sumber sastra/ lontarnya. Jika banten mebayuh tersebut sudah sesuai dengan salah satu sastra/lontar maka itu wajib diyakini kebenaranya.
( Ida Pedanda Made Gunung Web’s )
Mewinten
Berasal dari Bahasa Kawi (Jawa Kuno) artinya: mawa = bersinar-sinar; inten = permata; arti lengkapnya: bersinar-sinar bagaikan permata.
Adalah tradisi beragama Hindu di Bali yang bertujuan mohon “waranugraha” Hyang Widhi untuk memberikan kesucian bathin kepada seseorang.
Mawinten dapat dilakukan oleh siapa saja, apakah ia akan menjadi pemangku di suatu Pura/Sanggah pamerajan, atau tidak, artinya untuk kepentingan pribadi.
( stitidharma )







Comments on: "Otonan, Mebayuh dan Mewinten dalam Keluarga Kami" (4)
Wah awalnya enggak tahu upacara adat ini, terima kasih ya informasinya..Berbagi inspirasi
Terimakasih buat informasinya. Saya sering mendengar 'otonan' ini karena keluarga pemilik kost tempat sayang tinggal seringkali mengadakan otonan. Anaknya masih kecil-kecil.
Where can we do the ceremony Mebayuh on Bali? Do you have some adres.
Dimana kita melakukan Mebayuh upacara? Anda memiliki beberapa ALAMAT.
Usualy we do this ceremony at home or at the priest home. Everywhere in Bali you may see this special ceremony.