KESELAMATAN DAN KENYAMANAN ETIKA BERMOTOR ( SAFETY RIDING )

Menggunakan kendaraan bermotor saat ini siapa coba yang nggak nglakonin!… ya, jaman yang makin maju dan serba praktis seperti saat ini pastilah sangat dinanti oleh masyarakat. Seperti pertama kali sepeda motor digunakan di Indonesia tentunya oleh Belanda, masyarakat Indonesia sudah mengenal sepeda motor, namun saat itu mereka hanya bisa berangan-angan untuk memiliki sebuah sepeda motor. Namun kini peradaban dan situasi yang telah merdeka memudahkan seseorang untuk memiliki sepeda motor bahkan lebih dari satu buah. Yah, mungkin juga karena kemudahan itu orang-orang yang mampu berkendara saat ini tak menghiraukan etika-etika saat mereka menggunakan baik kendaraan bermotor maupun jalanan yang menjadi hak umum. Disamping itu tetegasan dari polisi lalu lintas yang tak bisa dijadikan panutan,yang kadang kadang mereka pun malah memberikan contoh pelanggaran disiplin yang sempurna agar ditiru. Tapi semua kembali pada pengguna jalanan itu juga, karena bagaimanapun mereka yang berkendara dan menggunakan fasilitas umum tersebut, jadi ya mereka juga yang harus menggunakan etika agar mereka selamat sampai tujuan.

Disini kita bisa share mengenai suatu kejadian saat berkendara dan tindakan seperti apa yang biasa kita lakukan atau apa yang seharusnya kita lakukan. Apakah tindakan kita itu sudah benar atau juga bisa merugikan orang lain atau bisa dibilang egois.

Beberapa contoh sederhana adalah kejadian sebagai berikut:
1. Ketika 2 lajur jalan menjadi 1 lajur jalan. Pemandangan yang sudah biasa kita lihat adalah perebutan lajur antar kendaraan, keadaan tidak mau mengalah.
Solusi menurut versi saya adalah: GANTIAN, dalam arti setelah dari sisi kanan, lalu sisi kiri, dan seterusnya. Adil dan lancar

2. Ketika lampu lalu lintas menunjukkan warna hijau, tetapi kendaraan di depan kita masih diam tak bergerak karena volume kendaraan yang terlalu banyak. Pemandangan yang biasa terjadi, ketika hijau, meskipun kendaraan depan tak bergerak, semua pasti tetap bergerak jalan (karena merasa sudah hak-nya untuk jalan ketika melihat warna hijau), sehingga posisi tepat di persimpangan jalan. Akhirnya posisi tersebut menutupi arah lain, sehingga ketika arah lain itu menunjukkan hijau, mereka juga maju (tidak mau kalah), terutama motor-motor & angkot-angkot, saling terobos, merasa diri-nya paling berhak, beberapa lama kemudian STUCK/DEAD LOCK. Semua pengendara akhirnya menunggu berjam-jam untuk memecahkan dead lock tersebut.
Solusi menurut saya dan sering saya lakukan, ketika lampu hijau tanda jalan, tapi kendaraan di depan tidak bergerak, saya tetap tidak bergerak (ini memang biasa dilakukan oleh para petugas, jika ada, untuk mencegah dead lock).
Solusi lain, mungkin harus ada lampu lalu lintas canggih, yang selain memakai automatic counter, juga memakai sensor, untuk melihat, apakah, suatu lajur layak untuk jalan (untuk mencegah dead lock).

3. Ketika jalan terdapat genangan air. Pemandangan yang sudah biasa kita lihat adalah ada beberapa kendaraan tetap memacu kendaraan-nya dengan cepat dan mengabaikan genangan tersebut. Alhasil, banyak orang lain yang terkena cipratan tersebut seperti pejalan kaki, pemakai sepeda, pengendara motor, dan lain-nya.

4. Dan lain-lain seperti penggunaan lampu dim & klakson.

Tapi pada kenyataannya yang banyak juga saya temui dijalanan, seperti pergeseran arti traffic light yang kadang jika kuning menyala bukanya hati- hati tapi malah ngebut untuk menghindari lampu merah setelah lampu kuning.
Yang saya sayangkan adalah para pengendara mobil-mobil mewah (TIDAK ADA ETIKA), tapi memiliki karakter seperti orang yang tidak/kurang berkependidikan. Sebagai contoh: buang ludah/riak dari dalam mobil, ganti lajur tanpa sen seperti bajaj, zig-zag kebut-kebutan layaknya raja jalanan, dan lain-lain-nya.
Yang sudah kronis seperti tidak ada obat-nya adalah para supir-supir angkot & metromini. Sebagai contoh: mengangkut penumpang di tengah-tengah lajur jalan, berhenti & memotong seenak-nya, dan lain-lain-nya.
Penyebab-nya karena mereka harus kejar setoran untuk makan (hidup).
Solusi versi saya: Hilangkan angkot & metromini sistem kejar setoran, Adakan transportasi bus seperti busway sistem gaji (seperti Singapore & negara-negara yang sudah maju lain-nya).
Memikirkan betapa menyebalkannya berkendaraan di jalanan memang gak akan ada abisnya, mau cari kesalahan orang lain sampai segimanapun mentok-mentok ya itu orang lain mana bisa kita ikutan pusing?. Belum lagi kecenderungan bahwa kita rajin nyalahin orang sementara kesalahan kita sendiri sering kali “terlewati”
Kalau masalah benar atau salah mungkin bukan hak kita sebagai pengguna jalan raya ya, toh udah ada seperangkat peraturan lalu lintas Jalan Raya yang ditegakkan oleh aparat kepolisian. Mungkin lebih tepat kalau dibilang etika berkendaraan di Jalan raya (Kalo berkendaraan di kamar tidur sendiri mah bebasss!!). Salah satunya adalah lampu sen, tau kan? itu lampu yang kalau dinyalain kedap-kedip dan biasanya warna oranye ada ke kanan dan ada ke kiri. Gunanya apaan coba lampu sen? yah itu mah gampil banget jawabnya .. untuk ngasih tau pengguna jalan raya yang lain kalau kita mau melakukan belokan entah ke kiri entah juga ke kanan.
Di semua kendaraan bermotor lampu sen dibuat sangat mudah untuk dioperasikan (kecuali di bajaj), gunanya supaya pengemudi gak males makenya. Tapi coba deh inget-inget, seberapa sering kita menggunakannya.. apakah setiap belok kita nyalain, atau cuman kalau lagi rame, atau malah seringan gak nyalain gara-gara entahlah mungkin males, mungkin ini mungkin itu, atau malah mungkin lampu sennya rusak dan lagi gak punya duit buat ganti huehehehe.
Sama seperti dalam kehidupan sehari-hari, dalam berkendaraan di jalan raya yang nota bene juga digunakan oleh banyak orang lain pun kita WAJIB melakukan KOMUNIKASI. Kalau dulu mungkin karena jalanan masih sepi komunikasi bisa dilakukan dengan saling berteriak (haha coba bayangin jaman mobil balapan ama kuda terus teriak-teriakan…), tapi sekarang jalanan udah rame banget sehingga perancang-perancang kendaraan bermotor perlu memikirkan sebuah standar universal komunikasi yang mudah untuk dilakukan dan mudah untuk sama-sama dimengerti.
Jadi ya gunanya lampu sen itu sebagai alat komunikasi, ngasih tau orang lain kalau kita mau belok. Begitu juga dengan lampu-lampu lainnya. Kalau ternyata kita tidak mengoptimalkan lampu sen ini ketika sedang berkendaraan sangat bisa jadi mencerminkan kemauan kita untuk berkomunikasi dengan pihak lain demi KEPENTINGAN BERSAMA. Heran gua kalau di jalan nemuin mobil mewah tapi sennya gak nyala, huehehe, punya cukup duit buat beli mobil tapi gak punya cukup duit buat sekolah sampe lulus SMA…

This entry was posted in Story. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s