Mengarang, Mulailah Sekarang

Oleh : Fahri Asiza*)
Bila kita membaca karangan seseorang, terkadang timbul pertanyaan. Bagaimana orang itu bisa mengarang? Dari mana idenya? Perlukah diadakan riset, atau memang semata-mata khayalan belaka? Mengapa karangannya enak dibaca? Apakah dia terus mengerjakannya, atau ada masa-masa buntu? Bagaimana menyiasatinya?
Pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya sangat mendasar, pun selalu ada bila kita hendak mulai mengarang. Satu yang tak bisa dilupakan, mengarang adalah ibadah (i.e tergantung jenis tulisannya), lantas, bagaimana cara mengarang yang meninggalkan setitik kesan bagi pembacanya? Kita mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Bagaimana seseorang bisa mengarang, karena dia telah memulainya, dia telah bertekad untuk mengarang, hingga boleh dikatakan ini adalah modal dasar yang pertama. Kemauan. Ada yang mengatakan, mengarang hanya memerlukan bakat sebanyak 5 %, selebihnya adalah kerja keras. Tapi bagi saya, tanpa kemauan, kerja keras pun tak ada gunanya.
Ide itu bisa muncul dari mana saja, asalkan kita kreatif, mengolahnya dalam pikiran, mengendapkannya atau bahkan kalau mungkin langsung menuliskannya. Ada pengarang yang sebenarnya tak punya ide apa-apa, tapi begitu menghadapi mesin tik atau komputer, ide itu terus runtun dan mengalir. Mengapa? Rahasianya mudah saja, karena dia telah menguasai bagian-bagian teknik mengarang–terlebih lagi tanda-tanda baca yang tak boleh dilupakan–dan telah mampu menyikapi jalan pikirannya dengan baik untuk menciptakan, mempermainkan, atau memanipulasi tokoh-tokoh ciptaannya.
Dan saya seringkali membiarkan tokoh-tokoh saya bergerak sendiri, saya seperti membiarkan saja apa yang mereka mau pikirkan, lakukan atau pun mungkin bikin gebrakan yang mengejutkan. Saya biarkan tokoh-tokoh itu mengalir begitu saja dan saya jadikan mereka sebagai ‘para punakawan’ sementara saya ‘dalang’nya yang menguasai mereka tapi tidak mengatur mereka.
Riset diperlukan? Boleh, bila memang yang hendak kita karang itu sesuatu yang memang memerlukan riset. Misalnya kita hendak mengarang tentang seorang yang pekerjaannya mencari mutiara. Kita harus tahu berapa lama seseorang bisa menahan napas di dalam air. Mutiara yang ditemukannya, apakah sudah dalam bentuk jadi, atau masih perlu diolah. Bila kita tidak mengetahui hal itu, kita perlu membaca buku (dalam arti riset kecil). Atau bila ingin lebih detil sesuai dengan kebutuhan yang hendak kita tulis, tak ada salahnya kita mengamati langsung bagaimana para penyelam mengambil mutiara.
Tapi banyak pula pengarang, termasuk saya, yang seringkali mengadaptasi apa yang telah saya alami, meskipun itu semua dimanipulasi dengan kebisaan kita sendiri. Banyak pula yang mengarang, setelah hasil karangannya jadi, tapi ketika dibaca, terasa hampa, kosong atau garing. Mengapa? Banyak hal yang harus dipahami di sini.
Pertama, kita harus menguasai karakter tokoh-tokoh cerita kita. Tanpa memahami karakter tokoh-tokoh yang kita ciptakan, kita akan terjebak dengan suasana yang kacau. Kelincahan bahasa mempengaruhi? Ya, sangat mempengaruhi, tapi bukan berarti kita mengambil gaya bercerita pengarang lain. Biarkan masing-masing berjalan sendiri dan kita harus menciptakan gaya bercerita kita sendiri.
Kedua, kita harus memahami soal waktu, setting, dialog/dialek.
Ketiga, rangkaian sebab akibat harus selalu ditonjolkan dalam mengarang, hingga cerita menjadi bersih, terangkai dan utuh. Humor perlu tidak? Bila memang diperlukan, mengapa tidak? Jadikan humor hanya sebagai sisipan belaka, agar inti ceritanya tetap utuh dan elemen-elemen ceritanya tidak longgar, kecuali bila memang hendak mengarang cerita humor. Perlu diingat, membuat cerita humor atau komedi itu sebenarnya jauh lebih sulit dari membuat cerita yang cengeng-cengeng.
Gimana kalau buntu? Endapkan saja, kaji lagi, baca lagi, tulis lagi. Bila masih buntu? Lakukan hal yang sama, dan gunakan waktu yang luang untuk membuat cerita yang lain. Dengan cara seperti itu, kita mulai bisa mengolah setiap ide yang datang. Mood berperan? Abaikan soal itu. Karena, mood (dalam hal mengarang) adalah kata yang tak boleh dipercaya, selain kata sulit. Bila kita harus menunggu mood datang, kapan kita akan memulai. Bila kita mengatakan sulit, kapan kita akan mempermudahnya?
****
Salam
*) Fahri Asiza, ayahnya Faldi, suaminya Farra, donatur tetap Rumah Dunia.

This entry was posted in Hobbies. Bookmark the permalink.

One Response to Mengarang, Mulailah Sekarang

  1. PanDe Baik says:

    Saya pribadi biasanya akan mulai menulis ketika sudah berhadapan dengan media pc, dimanapun saya berada. Namun terkait ide, bisa jadi itu lahir ketika sedang berada diluar pc, entah dijalan raya, saat beraktifitas hingga saat mengobrol dengan seseorang. Jujur saja, yang namanya ide (berhubung isi BLoG itu mirip toserba-serba ada-) hampir belum pernah kering. ada saja yang saya pikirkan setiap harinya. Kalo sudah begitu, ponsel merupakan media pertama yang saya gunakan untuk menyimpan ide, kira"bagaimana pengembangannya dan apa yang yang dijelaskan. Biasanya saya simpan dalam bentuk Notes.Jadi ketika sudah berhadapan dengan pc, saya tinggal memilih ide mana yang sekira dapat 'mengalir dari kepala saat itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s