Semarak Hari Raya Kuningan

Pantai Pengeragoan di banjiri pengunjung, begitulah pemandangan yang mewarnai objek wisata yang masih menjadi primadona warga setempat. Pantai yang letaknya di ujung timur Jembrana tepatnya perbatasan antara Tabanan dan Jembrana. Mendadak ramai oleh wisatawan lokal maupun pengendara yang sekedar lewat. Spontan saja jalur Denpasar- Gilimanuk dibuat merayap sejenak ulah dari pengunjung yang hilir mudik menyeberang jalan.

Nampak para pemuda yaang berpakaian adat madya ikut sibuk mengatur laju kendaraan baik yang sedang melintas maupun  yang hendak parkir. Dibantu oleh seorang aparat kepolisian, kedua badan jalanpun berubah menjadi lahan parkir dadakan.

Parkir yang biasanya bisa langsung di kawasan pantai justru bergeser dan malahan sudah berlalih fungsi menjadi tempat santai para pengunjung yang membludak. Tidak hanya itu tempat ini sedianya akan di gunakan pagelaran jogged bumbung untuk meramaikam suasana Hari Raya Kuningan.

Memang sudah menjadi kegiatan rutin setiap kali hari raya selalu ada kegiatan  seperti ini ungkap dari seorang pemuda yang tiada lain adalah anggota Sekaa Teruna Satya Dharma, Pengeragoan Dangin Tukad. Para pengunjung akan dikenakan biaya masuk Rp 6000,- per orang untuk orang dewasa dan Rp 4000,- untuk anak-anak. Kebetulan kami hanya ber-empat, termasuk si kecil Adit. Melewati loket tiket tepatnya di gerbang masuk, pengunjung akan di beri tanda berupa stempel dilengan sebagai tanda jika berkeinginan untuk keluar masuk kawasan agar lebih terpantau dengan yang belum membeli tiket.

Sesaat setelah kami duduk-duduk sambil berteduh dibawah pohon menghadap pantai, bersama Adit dan juga mamanya datanglah sekelompok sekaa yang berseragam merah tua yang baru saja turun dari kendaraan truk. Menambah yakin dalam diri jika pagelaran jogged bumbung sedianya memang bener akan diadakan. Pengunjungpun kian semakin bertambah seiring awan-awan hitam menutupi sebagian wajah matahari. Irama lagu bali tiada henti  keluar dengan kerasnya dari sebuah sound menjadi selingan. Namun sayang, keindahan pantai menjelang sunset sedikit sirna oleh redupnya Sang mentari.

Tepat Pukul 17:00 para penabuh jogged yang berasal dari Sekaa Jogged Samara Jaya Wanasara- Tabanan telah mengambil posisi masing-masing. Pementasan di mulai dari tabuh pembuka, suasanapun nampak lain, suara gamelan yang didukung dengan kekuatan sound  membuat para penonton semakin mendekat dan membludak bahkan berdesakan. Seperti biasa saya pun tidak ketinggalan dengan kamera yang selalu dibawa untuk membidik moment yang menarik. Jepretan demi jepretan pun diambil untuk mendapatkan hasil foto yang terbaik.

Setelah tabuh usai, masuklah Sang penari yang tiba-tiba diiringi oleh sosok orang dewasa yang sudah cukup tua sembari memakai kaca mata hitam sebagi pengibing pertama. Seketika itu pula penonton bersorak layaknya menyaksikan pertandingan sepak bola.Tak jarang adapula yang sampai tertawa terpingkal-pingkal melihat aksi kocak Sang penari. Mereka menampilkan penari dengan jumlah seluruhnya 4  penari secara teratur. Tak pelak pengibing yang kebanyakan anak muda itu lebih bersemangat. Mereka seakan berlomba untuk menunjukan keberaniannya menari.

Sambil tersenyum penari itu mengangkat pakaian bawahnya, sementara pengibing dicium hingga digoyangi, sehingga mengundang tawa penonton, semua itu dilakukan di depan penonton yang berasal dari berbagai umur ,mulai dari anak-anak yang lugu sampai orang dewasa. Tampaknya masalah norma, sopan santun, tidak berlaku dalam pertunjukan itu. Malahan akan menjadi bumbu dalam sebuah tariannnya. Bahkan Sang penaripun tidak merasa risih. Ada juga pengibing yang sedang bergaya erotis kemudian si penari membalas dengan gaya ngebor. Berbeda halnya dengan penonton wanita. Ketika penari muncul dengan gerakan porno mereka langsung memalingkan wajahnya sembari tersenyum kecil ke sesama penonton yang ada di sebelahnya.

Kami beserta keluarga merasa sangat terhibur dengan hiburan seperti ini. Para pedagangpun terlihat sumringah menikmati hasil penjualan yang jauh dari hari biasanya. Mereka mengaku meraup untung dua kali lipat, seperti yang di ungkapkan Ibu Oka sekaligus pemilik Warung Oka yang menyajikan menu bakso. Sayangnya karena Sang mentari sudah menginjak senja mengurungkan niatku untuk melanjutkan menyaksikan  pementasan selanjutnya. Mengingat Si Adit sudah di telpon sedari tadi oleh neneknya diminta untuk segera pulang lantaran was-was. (*eja)

This entry was posted in Culture and Art, Story. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s