Usia Baru, Kerjaanpun Ikut Baru

Serasa pegawai baru, begitulah ucap saya  ketika saya pertama kali memasuki ruang kerja baru setelah menikmati  libur selama  dua hari.

Sore itu saya melaju bersama dengan motor kesayangan. Melintas dari Sanur dengan tujuan Kuta. Langit masih nampak bersedih, awan tipis jelas tampak bergelayut diatas ruas Jalan by pass Sanur hingga Kuta. Kecepatan hanyalah 60 km/jam, bersama angin dingin saya tetap memacu motor dengan kondisi jalan yang tidak seramai  jam kantor.

Sesampai di tujuan usai memarkir motor saya langsung bergegas ke mesin absensi. Tujuh digit saya masukan serta merta telapak tangan tertempel di mesin pencatat kehadiran.

Sudah menjadi kebiasaan, lima belas menit adalah sisa waktu untuk merias diri sekaligus mengenakan seragam kerja. Tidak lebih dari lima belas menit saya sudah sipa untuk menuju ke lokasi kerja, yang mana hari ini merupakan hari pertama memasuki lingkup kerja yang baru secara operasional.

Berbagai harapan dan doa saling bergema dalam hati, tentu sebuah harapan untuk menjadikan tantangn ini  memberi jalan baik setiap kali melangkah ataupun berdindak dalam segala usaha. Memohon dukungan serta doa restu dari istri tercinta. Melalui istri yang tinggal jauh di kampung saya menulis pesan singkat akan sebuah harapan.

“ini pertama kali saya menjalani tpt kerja baru! doakan ya ma, salam buat si kecil Adit”

Sambil melangkah pelan meninggalkan ruang ganti, aku kembali merogoh saku celana akan  tanda getar  sebagai sahutan melalui sebuah balasan pesan singkat.

“Pasti pa, pasti sekarang mama mandi dulu trus beli susu, tadi hujan br reda tapi masih gerimis.ak syg km pa?”.

 Setelah pesan  terbaca dengan hati senang dan riang saya menuruni satu persatu anak tangga. Lorong sempit menembus areal kitchen akhirnya sampai di tempat kerja baru. Tidak banyak nampak kesibukan di sana, ibu Arik  yang saat itu terlihat mengotak-atik mesin micros ( mesin system transaksi ) serta seorang rekan wanita mbok Ratni sembari menyapa dengan ucapan selamat datangnya. Sedikit bingung apa yang semestinya di lakukan lebih dahulu. Mereka berdua hanya memberi support agar tetap santai dan tenang dalam sebuah kerja baru. Toh bakalan akan tahu secara tidak langsung seiring berjalannya waktu.

Belajar dengan sistem banyak bertanya tentunya media pembelajaran yang efektif bagi saya serta mencatat yang sekiranya perlu dicatat. Sesekali disaat waktu luang, mbak Arik yang sekaligus supervisor ini menjelaskan tentang Job description di room service dalam kaitan operasional sore serta pagi hari.

“Untuk sore tidak banyak kerjaan, yang  banyak itu shift pagi, kecuali oreder rame” cetusnya dengan perasaan  tenang dan sopan.

Tanpa lelah mata ini tidak berhenti mengamati gerak gerik rekan kerja yang saat itu di sibukan dengan order yang kian menumpuk. Sementara tulisan demi tulisan yang tertempel di papan dibaca serta berusaha di mengerti maksud yang tidak jelas melalui rekan kerja langsung.

Akhirnya kesempatan belajar jadi terpotong sejenak, aktifitas kirim mengirim pesanan ( orderan ) silih berganti. Mulai dari jenis makanan, minuman, ice batu hingga perlengkapan makan. Suasana pun agak sibuk. Sekedar kirim  pesanan memanglah sedari dulu  pernah saya lakoni tapi untuk urusan yang lebih mengarah ke standar saya perlu menambah ilmu lagi.

Wing ( sisi ) kiri ternyata awal dari langkah saya mengantarkan pesanan. Kamar nomor 2021 yang merupakan kamar yang terletak di lantai dua merupakan ketokan pintu diawal tantangan ini. Membawa buah, kue honeymoon buat sepasang tamu yang baru saja check- in. Kembali ke bawah akhirnya disusul lagi dengan pesanan yang lain.

Pemandangan akan sibuknya  pesanan jelas tergambar. Akhirnya kiriman berupa mie goreng serta  club sandwich memberi rejeki awal disaat pertama memulai. Lagi-lagi wing kiri, kamar nomor 1037 yang merupakan terletak di lantai satu dari total  4 lantai ini memberi uang tiping sebanyak Rp 50. 000 lumayan buat transport gumamku dalam hati. Mereka hanyalah tamu local beserta keluarga yang memberi rejeki. Aku langsung ucap syukur, “sebuah awal yang baik” lanjutku dalam hati.

Rutinitas  perlahan reda, malam kian beranjak larut. Saatnya makan malam, seperti biasanya waktu istirahat saya manfaatkan dengan menonton siaran berita serta menelpon ke rumah sekedar menanyakan keadaan si kecil Adit. Tanpa sengaja teman-teman di tempat istirahat sedang sibuk juga dengan obrolannya menngenai video yang mirip sepasang artis Ariel ( peterpan ) dan Luna Maya atau Cut Tari. Bahkan tak sedikit dari mereka yang sudah mempunyai videonya serta menontonnya rame-rame.

Satu jam sudah menemani waktu istirahat. Kembali kerja, disaat kembali saya melihat teman kerja  waktu bareng satu lingkup di areal kerja yang baru saya tinggalkan ( The Pond  Café ). Ia biasa di sapa Budi.

“Enak ni ye,nggak kena ujan sekarang?AC terus?” candanya.

Saya hanya balas dengan senyum lantaran ia tergesa-gesa, saya sempatkan melirik keluar yang ternyata memang benar beberapa rekannya nampak sibuk mengangkut  perlengkapan makan malam  yang terkena hujan.

Singkat cerita, kembali ke Room Services, aktifitas sudah sedikit mereda walaupun sesekali terdengar deringan telepon pertanda akan adanya pesanan baru. Namun, semua itu tidak membuat kami kelabakan karena kekuatan  team yang sudah mencukupi. Apalagi yang masuk sore sudah hadir.

Menjelang memasuki hari baru tepatnya pukul satu malam, kita masih duduk- duduk berempat sembari menunggu orderan dan melaksanakan tugas selanjutnya.

Kami berempat dalam sebuah ruangan  berukuran 3×4 meter persegi. Tetap menungu telepon berdering dari pesanan kamar. Perlahan aktifitas kembali sedikit santai sambil beberapa rekan melanjutkan akan tugas malam yang mereka harus kerjakan malam ini juga. Obrolan demi obrolan terlewati, hampir semuanya membahas soal pekerjaan. Kami pun beserta Alit yang merupakan pekerja lepas bersiap untuk membagi tugas untuk mengecek setiap tingkat lantai  untuk mengontrol door knob ( pesanan breakfast via menu ala carte ). Kami membikin sebuah kesepakatan antara kita, pembagian operasi keliling kamar yakni antara  wing kanan dengan wing kiri. Saya bergegas duluan pilih wing kiri. Sebelum bergegas keluar ruangan,  Alit yang juga merupakan teman yang bisa dihandalkan ini menunjukakan  ponselnya ke teman-teman bahwa dalam facebooknya tertera nama seseorang yang baru saja genap berulang tahun. Mereka serentak menoleh ke arah saya.

“harus todong ne?” maksudnya dia menuntut akan traktiran  hari ulang tahunku dengan nada bercanda. (*eja )

This entry was posted in Story. Bookmark the permalink.

One Response to Usia Baru, Kerjaanpun Ikut Baru

  1. PanDe Baik says:

    Waaaahhh… isinya makin keren dan mengalir… Tetap bersemangat !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s