Adit, Satu Oton

Kini Adit genap berusia 210 hari, tepat di tanggal  3 Juli 2010 atau menurut kalender bali Saniscara Paing Merakih merupakan otonan pertama putra kami. Seluruh rangkaian upacara kami adakan di kampung halaman di Desa Pulukan, Kec Pekutatan, Jembrana.

Otonan atau Ngotonin, yang merupakan peringatan hari kelahiran berdasarkan satu tahun wuku, yakni; 6 (enam) bulan kali 35 hari = 210 hari. 

Jatuhnya Otonan akan bertepatan sama persis dengan; Sapta Wara, Panca Wara, dan Wuku yang sama. Misalnya orang yang lahir pada hari Rabu, Keliwon Sinta, selalu otonannya akan diperingati pada hari yang sama persis seperti itu yang datangnya setiap enam bulan sekali (210 hari).

Persiapan demi persiapan sudah kami lakukan. Mulai dari minta izin libur cuti dari atasan, sedari awal  agar momen seperti ini  bisa diikuti atau di saksikan secara langsung selaku orang tuanya.

Kami beserta keluarga besar telah sepakat untuk mengambil tingkatan upacara yang sederhana, karena menurut orang tua bahwa sebelumnya di saat Adit melaksanakn upacara tiga bulanan kemarin sudah mengambil  tingkatan upakara yang besar.

Dalam rangkaian kali ini untuk urusan banten sepenuhnya diatur oleh ibu kandung saya sendiri sekaligus yang mengkoordinir akan berlangsungnya upacara otonan.

Dua ekor ayam yang di panggang sebagai sesajen dan pelengkap upakara yang di persembahkan di tiap-tiap tempat persembahan. Satu ekor di haturkan di meja tempat sarana upakara yang di jejer rapi di atas meja dalam sebuah kamar suci, dimana tempat itulah  nantinya digunakan putra kami natab banten  dan satu ekor lagi di haturkan di tempat ari-arinya nya yang ditanam.

Prosesi gunting rambut mengawali rangkaian upacara otonan kali ini, kami selaku orang tua menjadi pelaksana dalam prosesi ini. Di awali dengan menggunting dari bagian depan, kanan, kiri, belakang, dan tengah kemudian disertai doa yang berbeda dari masing-masing bagian yang di potong.

Hasil potongan tadi kami masukan dalam sebuah anyaman ketupat dari janur. Selanjutnya di simpan di plangkiran atau tempat suci yang letaknya di atas tempat tidur bersaman dengan potongan ari-ari yang kami simpan sebelumnya.

Berharap kelak rambut itu menjadi sebuah sejarah, yang mana rambut yang dulunya menyertai ia lahir ke dunia, kini sudah tepisah dari raganya dan menjadi kenangan tersendiri buat putra kami nantinya.

Prosesi tadi bertujuan  menghilangkan rambut “kotor”sejak lahir
Ketika hari sudah semakin sore, kami satu persatu mulai membersihkan diri lalu menggunakan baju rapi guna melanjutkan ke ritual selanjutnya yakni prosesi upacara yang sedianya akan dilangsungkan di kamar suci.

Seperti apa yang telah di sampaikan awal tadi bahwa tingkatan upacara yang kami ambil dengan sederhana cukuplah di pimpin oleh keluarga yang dituakan. Dalam posisi ini di pimpin langsung oleh ibu saya sendiri sekaligus yang menjadi nenek-nya Adit.

Di ruang penuh dengan sesaji atau benten serta aroma dupa yang tercium di seluruh ruangan ini terucap berbagai doa dan harapan menyertai agar kelak dalam sebuah perjalanan hidupnya memperolah keselamatan dan kebaikan dalam menjalani hidup serta puji syukur kepada Hyang Widhi atas karunia berupa panjang umur, serta mohon keselamatan dan kesejahteraan.

Kemudian disertai dengan pemasangan benang dengan pengantar doa : “Ne cening magelang benang, apang ma uwat kawat ma balung besi” (Ini kamu memakai gelang benang, supaya ber otot kawat dan bertulang besi).

Menurut dari beberapa sumber bahwa ada dua makna yang dapat dipetik dari simbolis memakai gelang benang tersebut adalah:

1.    Benang memiliki konotasi beneng dalam bahasa Bali berarti lurus, karena benang sering dipergunakan sebagai sepat membuat lurus sesuatu yang diukur. Agar hati selalu di jalan yang lurus/benar.

2.    Benang memiliki sifat lentur dan tidak mudah putus sebagai simbol kelenturan hati yang otonan dan tidak mudah patah semangat. (*eja)

This entry was posted in Children, Culture and Art. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s