Tanda Memarnya Membuat Kami Sedih

Adit tadi  “ terjun ” dari dalam rumah bersamaan dengan keretanya, ucap kakeknya ketika  aku baru saja datang dari Denpasar.

“Ia terjatuh lalu dahi sebelah kanannya membentur tanah disaat asik bermain dengan keretanya setelah ditinggal sejenak oleh ibunya”. Bebernya.

Rasa kaget, aku langsung bergegas dengan rasa  penasaran dan penuh khawatir menuju ruang kamar tanpa melanjutkan obrolan lagi, setelah di tengok rupanya tidak ada siapa-siapa di sana.

 “Sekarang dimana adit pak ?”. Tanyaku.
“Itu disana duduk di belakang rumah bersama ibunya”, sahutnya sambil menoleh ke arah sanggah ( tempat suci ).

Setelah dicek, rupanya ia terlihat dipangku, sementara ibunya juga nampak bersedih sembari menatap wajah Adit yang tertidur. Memar merah serta sedikit benjol sangat jelas terlihat persis diatas alis-alis sebelah kanannya.

Wajah riang dan tawanya sementara sirna dihiasi bekas  air cendana yang dioles tepat di benjolannnya. Walaupun benjolan itu tidak begitu parah atau membuatnya sampai lebam pastinya benturan itu membuatnya sakit luar biasa untuk seusia dia.

Barangkali inilah rasa  paling sakit yang ia pertama rasakan sepanjang hidupnya yang kini sudah hampir berusia tujuh bulan. Perlahan aku membangunkannnya karena ingin segera melihat ia tersenyum.

Kuusap bekas benturanya. Perlahan aku memanggil namanya agar ia terbangun
Matanya yang tertutup rapat akhirnya perlahan terbuka menoleh ke arahku. Bergegas aku merangkul dari pangkuan ibunya.

Untuk melupakan rasa sakit yang mungkin masih ia rasakan aku langsung mengajaknya ke ladang belakang tidak jauh dari rumah  sambil melihat anak sapinya yang kini baru berusia tiga hari.

Adit hanya bisa terbengong dan menoleh tidak karuan melihat sejumlah sapi yang berkeliaran di sebuah kebun kosong. Sesekali ajakan berupa canda untuk memancing senyumnya masih sulit terwujud.

Karena sore semakin beranjak disertai juga udara yang berhembus cukup dingin. Kamipun dikebun hanya sebentar langsung bergegas kembali pulang. Akhirnya tibalah waktunya untuk memandikannya setelah usai makan bubur.

Air hangat yang sebelumnya sudah di pesiapkan memberi kesegaran baginya disaat udara sore yang begitu terasa dingin.

Byurrr…setelah beberapa menit disaat ibunya membersihkan tubuhnya dengan sabun, canda tawanya baru muncul dengan  senyum khasnya yang masih belum tumbuh gigi itu. Serentak  kami merasa bahagia sambil membalas senyumnya.

Sementara Sang nenek menyiapakan upakara berupa banten yang menurut keyakinan agar jiwanya Adit kembali merasa tenang pasca kejadian tadi. Banten itu nantinya akan di haturkan tepat di sebelah ari-ari yang berdekatan dengan tempat ia terjatuh. ( *eja )

This entry was posted in Children. Bookmark the permalink.

2 Responses to Tanda Memarnya Membuat Kami Sedih

  1. PanDe Baik says:

    MiRah putri kami sempat mengalaminya saat Galungan lalu. ia terbentur di ujung anak tangga pada bagian pipi kanan. selain memar membiru, pipinya juga bengkak sebelah. Kami menggunakan Trombopop gel yang diusapkan secara halus pada pipinya. Bengkaknya sembuh dalam 2 hari, tapi memarnya agak lama, sebulanan kalo ndak salah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s