Pijat Reflexology, Membawa Angan Terbang Melayang

Patung Dewa Ruci, Simpang Siur

Melalukan pijat reflexology dari Chinese Dragon Reflexology Simpang Siur, Kuta terasa berada dalam sebuah pesawat terbang kelas busines. Walaupun saya belum pernah merasakan nyamannya duduk diatas kursi pesawat kelas busines, namun sedikit tidaknya tahu persis dari beberapa iklan di media cetak dan elektronik. Hal ini bisa saya bayangkan bagaimana rasanya duduk didalamnya. 

Kenyamanan yang terasa dalam ruang Therapist pijat refelexology setidaknya memiliki kesamaan dari segi model tempat duduk yang tersedia saat melakukan therapist. Seperti tersedianya tempat duduk yang sangat lebar, empuk, dan bisa diatur posisi sandarannya hingga membentuk tempat tidur yang nyaman. Fasilitas audio visual juga tidak kalah ketinggalan yang terpasang pada sisi bagian kanan sandaran tangan. Tayangan dari beberapa saluran TV Cable membuat suasana disana benar – benar betah dan waktu akan terasa cepat berlalu.

Jumat lalu saya memperoleh kesempatan untuk mengenang kembali masa – masa menggunakan moda transportasi udara kelas ekonomi sekaligus untuk meregangkan otot otot yang kaku melalui pijat reflexology. Saya memilih paket 2 jam pijat reflexology. Suasana akan menaiki pesawat jarak jauh akan terkenang kembali melalui fasilitas yang tersedia di dalam ruang tersebut. Seperti audio, TV channel dan tempat duduk yang hampir mirip di dalam kabin pesawat akan dapat dirasakan sesaat.

Saya mengambil paket yang paling lama yaitu dua jam dengan harga Rp 123.000. Mumpung saat itu masa promo masih berlaku, jadinya harga tersebut menjadi Rp 89.000  untuk 2 jam therapist yang mencangkup pijatan pada bagian kepala sampai ujung kaki.

Salah seorang pijat therapist dari Madiun, Jawa Timur bernama Lanjar melayani dengan ramah dan sabar. Waktu 2 jam melakukan therapist adalah hal biasa baginya. Dalam sehari ia bisa memperoleh kostumer 3 sampai 5 orang. Saat itu saya merupakan menjadi kostumer ke 3 sekaligus yang terakhir menjelang berakhir jam kerja. Saya mulai pukul 8.30 sampai berkakhir pukul 10.30 malam.

Suasana dalam ruang yang terisi 24 tempat duduk therapist makin lama makin terasa dingin. Dinginya udara bersumber pada hembusan yang berasal dari salah satu pendingin ruangan, saya dapat duduk di kursi nomor 22. Lantunan irama instrumen China membuat benar – benar damai dihati. Sungguh benar – benar sepi dan damai, suara berbisik dari salah satu kostumer lain sangat jelas terdengar. Irama rintik- rintik air dari sebuah waskom untuk membasuh kaki si kostumer samar – samar terdengar seakan ikut menyahut irama musik yang mengalun merdu. Tidak banyak sinar lampu menerangi di dalam ruang tersebut. Serentak mata dibuat sejuk dari remang – remangnya cahaya lampu dan pikiran dibawa pada sebuah alam kedamaian.

Sementara dibagian timur bangunan ini tepatnya di luar areal merupakan titik kemacetan Simpang Siur. Jarak Traffic Light yang begitu dekat dari tempat tersebut tidak mempengaruhi suasana sunyi yang sudah tercipta. Sebagian besar kendaaraan dari arah Nusa Dua tersendat persis dihadapan bangunan tersebut. Tidak ada satu pun suara kendaraan yang berani lolos sampai ke dalam ruang sunyi ini. Suara damai tetap terjaga di dalamnya.

Tahap demi tahap pijatan dilakukan oleh Lanjar, dari atas kepala sampai akhirnya berakhir di bagian ruas – ruas jari kaki. Rasa geli bercampur setengah sakit terasa pada bagian bawah kaki, Lanjar melakukan pijatan menggunakan tulang ruas jari tangan dengan gerakan menekan searah, tepat di telapak bagian kaki. Gerakan itu ia lakukan berulang- ulang sampai telapak kaki terasa hangat. Ia juga menggunakan semacam minyak urut beraroma wangi, agar gerakan yang ia lakukan tidak dirasakan kasar sama kostumernya.

Rasa ngantuk akhirnya tiba – tiba datang tepat disaat masa therapist akan menjelang berakahir. Keinginan untuk tinggal dan tidur sekalian di tempat tersebut adalah hal yang sangat mustahil saya lakukan. Rasa ngantuk usai melakukan therapist membuat tubuh ini enggan untuk beranjak dari sofa empuk tersebut.

Lalu muncul angan – angan dalam benakku, andaikan saja saya datang ke Chinese Dragon Reflexology melakukan therapist bersama dengan sopir pribadi (  hal impossible ) pasti akan memberi hasil yang seimbang disaat usai melakukan pijat reflexology. Ketimbang membawa motor sendiri yang harus menempuh 35 menit lagi menuju tempat tinggal sembari menahan rasa ngantuk yang tak tertahankan hingga menjelang Pukul 11.00 malam tiba sampai tujuan di Ungasan.

This entry was posted in Story, Traveling and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Pijat Reflexology, Membawa Angan Terbang Melayang

  1. Andromega says:

    Is the best choice…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s