Doa Bersama Dalam Sehari

Perhatian: Tulisan ini berisi banyak photo

Buda Kliwon Ugu, 19 Oktober 2011 merupakan puncak Pujawali di Pura Pedharman Pusat Ida Bhatara Dalem Tarukan. Sebagai Sentana Dalem Tarukan agar senantiasa selalu ingat dalam tugas kehidupan sebagai Perstisentana, maka pada hari Jumat 21 Oktober 2011, kami bersama istri dan si kecil Adit berkesempatan Tangkil pada pujawali kali ini.

Ini merupakan kunjungan pertama bagi Adit dan Mamanya ke Pusat Pedharman Pulesari. Akhirnya ini menjadi tonggak sejarah mereka berkunjung untuk Tangkil di Desa Pulasari, Peninjoan, Tembuku, Bangli.

Kesetiaannya terhadap boneka ' Adik ' selalu dekat dan senantiasa bersama

Di  desa inilah berdiri kokoh Pura Padharman Pusat Ida Bhatara Dalem Tarukan. Setiap enam bulan sekali atau pada acara-acara lainnya menjadi perhatian umat sedharma terutama warih Dalem Tarukan

Akhirnya kami tiba disana Pukul 12. 30 siang. Ketika kami tiba disana sudah banyak pemedek yang telah mengambil posisi duduk siap untuk melaksanakan persembahyangan. Tidak lama berselang pamuspan serentak dimulai tepat disiang hari didukung cuaca yang sangat cerah. Runtutan persembayangan dipimpin langsung oleh Pandita, diawali dengan Puja Tri Sandya sebelum tahap pamuspan. Adit beserta pemedek lain mengikuti seluruh rangkaian persembahyangan dengan tertib dan kusuk.

Pura Padharman Pusat Ida Bhatara Dalem Tarukan tidaklah sulit mencarinya. Perjalanan bisa lewat dari berbagai arah. Bisa dari Kota Bangli – Banjarangkan – Klungkung – Badung ( Bringkit ) – Ubud – Gianyar. Semua arah tersebut bisa menjadi jalur utama, sesuai dengan asal pemedek.

Kami merupakan pemedek dari Negara masuk dari wilayah Badung tepatnya di selatan Pasar Bringkit menuju arah timur sebagai jalur termudah dan bebas dari hambatan macet. Jalur ini merupakan umum digunakan sebagai jalur alternatif ketika menuju Bangli, Gianyar dan Karangasem.

Walaupun jalur ini hampir sering saya lewati, tetap saja menemui kebingungan sepanjang perjalanan. Kebingungan yang paling sering terjadi  adalah di wilayah Ubud, dan Kota Bangli. Agar tidak ragu di tiap bentuk persimpangan jalan yang ditemui, tak jarang saya turun dari kendaraan untuk menanyakan arah yang pasti kepada warga sekitar.

Kami datang dari arah sebelah kanan

Pura ini tepatnya berada di Pulasari, Peninjoan, Tembuku, Bangli. Lokasinya berada di daerah sejuk, masih dalam suasana desa. Perjalanan dari Negara ( Pekutatan ) cukup jauh dan sedikit melelahkan. Namun, selama perjalanan banyak melalui hamparan hijau, perkampungan yang alami, rumah penduduk sederhana dan asri disepanjang wilayah Tembuku, Bangli. Sehingga hampir semua wilayah bisa memberikan panorama yang sama sepanjang perjalanan.

Luas pura juga cukup memadai. Ada tempat parkir yang luas, begitu juga di sebelah timur pura ditemukan areal yang kosong berupa tegalan cukup luas. Fasilitas untuk pemedek juga tersedia seperti kamar kecil bahkan kebersihannya juga terjamin.

Sarana umum seperti wantilan juga mampu menampung ribuan orang. Suasana pura akan tampak lain ketika odalan digelar tepat Buda Kliwon Ugu setiap enam bulan sekali

Tak sedikit para pedagang memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari nafkah. Dikedua ruas jalan yang kondisinya banyak berlubang berdiri banyak tenda – tenda sebagai tempat mereka berjualan. Suasana disana mirip sekali seperti pasar dadakan. Mereka menjajakan berbagai jenis dagangan mulai dari mainan anak- anak sampai jenis makanan siap saji ditawarkan. Dapat dibayangkan, sesak umat Hindu terutama dari Pertisentana Dalem Tarukan yang tumpah ruah ke pura.

Pedagang saling memberi harga

Pelataran kahyangan yang cukup luas pun seakan menjadi sempit. Apalagi jumlah perti sentana di seluruh Nusantara yang jumlahnya 200-an ribu tersebar di Jawa, Lombok dan daerah lainnya. Dalam tiap Pujawali disediakan tiga hari untuk waktu nyejer.

Selesai melakukan persembahyangan, kami bertiga dalam satu mobil kembali menuju pulang ke asla di Negara ( Pekutatan ). Sepanjang perjalanan pulang  banyak menemukan tempat – tempat yang asik dikunjungi di wilayah Bangli dan Gaianyar.

Adit tertidur nyenyak di Parkir Timur Lap. Mudita, Bangli

Adit tertidur nyenyak di Parkir Timur Lap. Mudita, Bangli

Bersiap Pinjam kamar kecil di Rumah Dinas DRPD Bangli

Mumpung tidak diburu waktu dan tersisa banyak waktu, sebagai selingan sepanjang perjalanan pulang kami gunakan tempat tersebut sebagai Rest Area. Tempat tempat tersebut antaranya; Lapangan Mudita sebagai tempat yang nyaman untuk mencicipi lungsuran, Vihara Amurya Bhumi, Blahbatuh sebagai tempat memohon keselamatan melalui dewa – dewa  yang berstana disana. Atas dasar keyakinan dan niat baik kami menyempatkan untuk melakukan doa dipandu langsung oleh seorang ibu tua sebagai penjaga Vihara disana.

Mencicipi 'Lungsuran' di sebelah timur Lap. Mudita

Berjalan menuju Vihara

Selamat datang di Vihara Amurya Bhumi Blahbatuh, Gianyar

Menikmati suasana damai

Ibu tua penjaga Vihara yang baik hati

Hari pun semakin sore, akhirnya sesudah disana kami bertolak menuju Negara langsung bablas tanpa henti. Akhirnya tiba di Gumbrih pukul 17.30 hampir mendekati dengan waktu kami berangkat paginya.

This entry was posted in Culture and Art and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s