Banyu Pinaruh, Serasa Pantai Jadi Milik Sendiri

Location: Dream Land, Pecatu

Pada hari Saraswati kali ini saya merayakan hanya sendiri di desa Ungasan. Kesempatan tersebut saya manfaatkan untuk bersembahyang malam harinya di Pura Uluwatu. Sebagian besar yang datang melakukan persembahyangan ternyata di dominasi oleh anak – anak pelajar.

Saya berada disana hanya sampai sekitar pukul 12.30 dini hari. Lalu lanjut balik kanan pulang ke rumah tidur sekaligus mempersiapkan diri agar bisa bangun agak pagi untuk melaksanakan Banyu Pinaruh.

Sebelumnya, di pagi harinya saya ada di kampung kebetulan libur kerja pekan ini bertepatan dengan hari Saraswati. Siang itu saya hanya sebagai pendamping istri dan si kecil Adit untuk turut hadir pada persembahyangan di SMP HARMAS ( Harapan Massa ) Pekutatan.

Menjelang pagi, saya meluncur membawa sarana persembahyangan mengarah pantai Dream Land, Pecatu. Pagi itu sekitar pukul 6 pagi tidak begitu banyak orang yang melakukan Banyu Pinaruh. Hanya terlihat beberapa yang sedang mandi. Rasanya ini merupakan kesempatan baik bagi saya untuk melaksanakan Banyu Pinaruh pada suasana yang sepi didukung pula dengan cuaca pagi yang cerah.

Banyu pinaruh yang saya lakukan hanya sebatas cuci muka ,kaki dan tangan. Lantaran tidak membawa pakaian komplit, ya saya kangokan sebatas banyu pinaruh tingkat sederhana atau ringan.

Dari salah seorang sumber teman di facebook bernama Yan Arjun, tanpa sengaja membaca sebuah postingan di wallnya yang tertulis detail tentang definisi dari banyu pinaruh. Dibawah ini merupakan tulisan tersebut

” Banyu Pinaruh adalah air ilmu pengetahuan. Pada hari ini umat Hindu Dharma melaksanakan asuci laksana dengan jalan membersihkkan diri di laut atau di sungai di pagi hari, tepatnya lagi disaat matahari terbit. Setelah mandi di laut atau di sungai, umat berkeramas memakai air kumkuman yakni air yang berisi berbagai jenis bunga-bunga segar dan harum. Setelah itu umat mempersembahkan sesajen berupa labaan nasi kuning serta loloh di merajan, setelah menghaturkannya, kemudian diakhiri dengan nunas lungsuran “.

This entry was posted in Culture and Art and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s