Puluhan Tahun Suartini Tinggal di Gubug Reot

Sebuah gubug tua nampak agak reot sering jadi perhatian saya ketika melintas di jalur Denpasar – Gilimanuk. Gubug tersebut berlokasi disebelah timur ruas jalan raya desa Bonian, Selemadeg, Tabanan. Hanya berjarak sekitar satu setengah kilo meter sebelah barat Obyek Wisata Pantai Soka. Beberapa waktu lalu saya menyempatkan diri untuk menghampirinya.

Sore itu terlihat semua pintu gubug dalam keadaan terbuka, namun tidak ada seorang penghuni terlihat di luar. Sekilas sangat jelas bahwa gubug tersebut merupakan sebuah warung sangat sederhana, mirip seperti warung kopi yang mana antara pembeli dengan penjaga warung dibatasi meja. Warung tersebut hampir sering kali terlihat sepi sepanjang saya melintas di jalur tersebut.

Kondisi jalan depan warung tersebut agak sedikit menurun. Ketika saya kesana, posisi motor terparkir agak jauh dari posisi warung tersebut karena kelewatan saat hendak berhenti. Saya mencoba melangkah mendekat warung, namun tidak satupun terlihat orang disekitar pekarangan yang banyak di tumbuhi pohon bambu tersebut. Ketika saya berada persis di depan warung, keluarlah seorang ibu tua dengan wajah membisu tanpa sepatah kata terucap.

Saya dahulukan diri untuk menyapa dengan bahasa bali
Ampure buk, ibu sendiri deriki nggih ? ” ( maaf bu, ibu sendiri disini ya ? )

Lalu sahutnya “ nak wentn napi ? ” ( ada apa ya? )

“ Ten tiang cuman hanya mampir, karena perjalanan dari kampung jagi ke denpasar nike bu ”, ( tidak, saya hanya sekdar mampir saja, mumpung lagi perjalanan menuju Denpasar dari Negara ), sahutku.

Sekilas, seperti itulah awal pembicaraan kami di mulai. Ibu tersebut ternyata bernama Ni Luh Suartini, ditanya soal umur ia sama sekali tidak mengingatnya. Rupanya tidak hanya berbahasa bali, ibu tersebut juga memiliki kemampuan berbahasa Indonesia cukup baik. Penampilannya agak lusuh sambil mengenakan sandal yang tidak sejenis.

Ia mengaku sudah 20 tahun hidup sendiri bahkan belum pernah menikah sampai saat ini. Selama itu pula ia tinggal di gubuk yang lahannya merupakan pemberian dari paman sebagai tempat numpang. Selama sendiri ia hanya mengandalkan warung miliknya sebagai mata pencaharian tetap. Kadang disela – sela kesepiannya, ia menyempatkan diri untuk tinggal di rumah bibinya yang  letaknya tidak jauh dari warungnya hanya untuk meminta kebutuhan makan sehari hari.

Sesekali dalam obrolan itu mata saya tak henti- hentinya memperhatikan kondisi gubuk yang sangat tidak layak dijadikan sebagi tempat tinggal. Kondisi atap yang sudah darurat dilapisi plastic agar tidak bocor sebagai perlindungan tatkala hujan turun.

Saat mengobrol tak jarang suara kami tergangu oleh derungan kendaraan truk yang begitu keras melintas, sehingga apapun yang kami bicarakan kadang kurang begitu jelas terdengar, jeda sesaat lalu setelah arus sepi baru mulai melanjutkan obrolan kembali.

Selain gubuk  yang di gunakan sebagai warung, disana juga terlihat sebuah pondokan kecil beratapkan anyaman dari daun kelapa yng sudah terlihat mengering. Tempat tersebut katanya dijadikan sebagi tempat memasak olehnya. Persis di sebelah timur gubuk terdapat sebuah aliran anak sungai yang posisinya agak curam. Disekitar sana tidak banyak terlihat rumah penduduk, hanya ada satu rumah persis di depan gubug tersebut, itu pun posisinya agak menjorok kedalam.


Sudah cukup lama berbicara, saya mencoba meminta ijin untuk melihat lebih dekat lagi keadaan di dalam gubug yang dijadikan warung sekaligus tempat tinggalnya. Jelas sekali bahwa disana tidak banyak aneka makanan atau minuman saya lihat di jual sebagai dagangan, hanya terlihat beberapa minuman yang masih utuh serta beberapa buah dan cemilan kering, sisanya hanya botol kosong yang sudah berdebu terpajang di meja dagangannya seakan tak pernah tersentuh sama sekali. Dibalik meja dagangan tidak banyak cahanya yang menerangi. Kondisinya gelap walaupun saat itu hari masih sore. Disitulah ia tidur tatkala malam telah menyapanya.

Tiap malam ibu tua yang hanya pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar Antosari itu tinggal tanpa penerangan lampu listrik. Ia hanya dibantu sebuah lentera kecil sebagai penerang kamar yang dihidupkannya tatkala dibutuhkan, selebihnya ia lebih banyak tinggal dalam kondisi gelap ketika malam menyelimuti gubugnya.

This entry was posted in Social, Story and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Puluhan Tahun Suartini Tinggal di Gubug Reot

  1. Agus Lenyot says:

    Wah, sempat-sempatnya Bli menyinggahi ibu ini. Orang-orang seperti ini memang kerap kita abaikan, bahkan dipandang pun tidak. Feature yang menarik. Salut sudah menyempatkan diri mampir. Aku besok rencananya pulang ke Jembrana nih Bli…

    • Admin says:

      Kebetulan saat itu warung buka, mumpunng tdk mengejar wktu akhirnya sempet ngobrol. Sekalian utk dijadikan latihan menulis. Hanya mengandalakn kata yg sederhana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s