Mangku Kawik Pimpin ‘Piodalan’ Saat Pagerwesi

Mangku Kawik Bersama Istri

SELAMAT HARI RAYA PAGERWESI UNTUK UMAT HINDU SEBUANA, KHUSUSNYA SEMETHON BALI…

Hari Raya Pagerwesi merupakan hari raya penting bagi umat Hindu Bali. Kata “ Pagerwesi ” artinya pagar dari besi. Ini melambangkan suatu perlindungan yang kuat. Segala sesuatu yang dipagari berarti sesuatu yang bernilai tinggi agar jangan mendapat gangguan atau dirusak. Hari Raya Pagerwesi sering diartikan oleh umat Hindu sebagai hari untuk memagari diri yang dalam bahasa Bali disebut magehang awak. Nama Tuhan yang dipuja pada hari raya ini adalah Sanghyang Pramesti Guru.

Bisanya, hari Pagerwesi bagi warga kota Singaraja dan sekitarnya menjadi sebuah hari yang sangat istimewa. Walaupun saya belum pernah mengalami seperti apa suasana disana, namun saya tahu banyak dari cerita – cerita yang beredar. Dibanding dengan daerah lain, Pagerwesi di Singaraja katanya jauh lebih ramai dan semarak, sama halnya dengan Hari Raya Galungan.

Merajan atau Sanggah

Kebanyakan pada Hari Raya Pagerwesi ini, di sejumlah Sanggah atau Kemulan mengadakan sebuah piodalan yang perayaannya tepat diadakan pada hari tersebut. Jatuhnya piodalan dalam wuku tersebut adalah Buda Kliwon Pagerwesi. Piodalan yang bertepatan dengan hari Raya Pagerwesi juga diadakan di rumah saya di Desa Pulukan, Kecamatan Pekutatan. Dalam kesempatan kali ini piodalan di Sanggah kami terlihat berbeda dengan piodalan perayaan sebelumnya, yakni seluruh upacara dirangkai jadi satu dalam ritual Pecaruan terlebih dahulu antaranya di Tugu dan di Sanggah atau Kemulan.

Seluruh rangkaian upacara dimulai pada pagi hari, dipuput langsung oleh Mangku Puseh / Desa (Mangku Kawik). Beserta Mangku Istri seluruh Banten yang di persembahkan di anteb, sembari kami menunggu rankaian demi rangkaian atas dasar petunjuk dari Pemangku. Sampai akhirnya persembahyangan di mulai bersama tepat di siang hari.

Sanggah Tugu

Dihari sebelumnya, dilakukan kegiatan Nunas Tirta di Gria Pangyangan. Pada kesempatan tersebut Ida Pedanda kebetulan tidak ada di Gria karena beliau sedang memuput sebuah upacara di desa Pulukan. Seluruh kegiatan nunas tirta di Gria hanya diladeni oleh Perandra Istri. Ternyata disana kami ditemani oleh sejumlah warga yang memiliki tujuan sama yakni Nunas Tirta untuk Piodalan saat Hari Raya Pegerwesi.

This entry was posted in Culture and Art and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s