Selamat Tinggal Be’o Tersayang…


Tak ada lagi suara burung beo yang bisa menirukan suara manusia di rumah kami. Burung beo yang telah berusia 13 tahun nampak tidak seperti biasanya. Kelihatannya seperti sakit dan tak bersemangat. Ia hanya terlihat termenung dalam sangkar. Gerak agresifnya didalam sangkar belakangan telah sirna.

Sudah tua, dari pada mati lebih baik dijual. Nanti kasihan “, begitulah alasan kakeknya Adit memutuskan untuk menjual burung kesayangannya itu.

Kakeknya Adit telah mengasuh burung beo ini sejak tahun 2001. Burung beo tersebut dibeli di desa Pangkung Medahan, Pulukan seharga tiga ratus ribu. Ketika itu si beo masih kecil. Setiap harinya burung beo tersebut diberi makan seadanya. Apa saja ia mau dimakan, mulai dari ikan, buah – buahan sampai beberapa jenis sayuran.

Sejak itu, burung beo dilatih oleh kakeknya Adit agar bisa menirukan suara manusia sembari mengasinya makan. Seiring waktu berjalan, burung beo tumbuh semakin besar. Akhirnya ia bisa menirukan banyak kalimat dan kata. Kalimat yang lancar diucapkannya seperti, om swastiastu, haloo cewek.

Selain kata atau kalimat yang terbentuk melalui proses latihan ia juga mampu meniru suara – suara yang ada di dekatnya. Misalnya bisa menirukan suara yang sering saya atau orang lain ucapkan; memek dije ( mama dimana ), minul – minul

( minul = sebutan nama anjing kami ), teet..teet.. ( bunyi klakson motor ).

Sepanjang menjadi bagian dari anggota keluarga kami, burung beo ini berhasil memberi nuansa keramaian disekitar lingkungan rumah. Rumah yang memiliki luas lahan 4 are ini tengah dilengkapi oleh kehadiran si burung beo. Ia telah banyak menyaksikan kisah hidup keluarga kami sepanjang menjadi bagian selama 13 tahun lamanya hidup berdampingan.

Kisah – kisah menonjol yang tentunya ia pernah saksikan seperti adanya upacara perkawinan saya dan juga perkawinan adik, adanya anak saya yang kini sudah berusia 2 tahun, serta berbagai warna konflik ringan antar keluarga. Semua kisah tersebut tentu disaksikan dari halaman rumah langsung oleh burung beo kesayangan kami.

Ibarat sudah menjadi sahabat atau saudara, si burung beo sudah tak asing terdengar ditiap harinya. Sebelumnya, pernah mengalami catatan perpisahan sementara antara si beo. Perpisahan tersebut merupakan bagian dari mencari nafkah ke negeri orang. Sepanjang berpisah, suara burung beo hanya sebatas angan –angan yang menghibur di negeri orang.

Perpisahan paling lama dialami oleh Sayoga, merupakan adik kandung saya. Ia telah tinggalkan si beo selama 5 tahun ke negeri Sakura, Jepang. Pada akhirnya kembali dan berjumpa kembali bersama si beo. Kala itu ia tetap kelihatan sehat dan lincah.

Begitu juga yang saya alami, pernah berpisah dalam kurun waktu lama dengan si beo. Perpisahan saya hanya selama setahun untuk mencari nafkah ke kapal pesiar. Ini terjadi sampai 4 kali dalam tiap keberangkatan. Masing – masing lamanya hanya setahun berpisah dalam tiap periode atau kontrak kerja.

Kini, semua hanya tinggal kenangan. Si beo sudah di beli oleh seorang bapak yang bekerja pada sebuah bank. Bapak tersebut tertarik untuk membelinya, kebetulan saat itu ia tengah menjarit pakaian di tempat kakeknya Adit. Pas itu dilihatnya si beo di dalam sangkar menatap kosong ke arah orang yang menjadi pembeli.

Setelah melalui banyak pertimbangan, akhirnya burung beo tersayang direlakan untuk dibeli oleh bapak tersebut. Ia dilepas oleh kekeknya Adit dengan harga satu juta. Keesokan harinya si beo langsung dimasukkan dalam sangkar yang tertutup kain.  Tak lama berselang, si beo bersama tuan nya yang baru lantas berlalu.  Ia bak terbang jauh dan tak akan kembali lagi.

Si beo tercinta tentunya akan mulai beradaptasi kembali di daerahnya yang baru. Kabarnya ia akan di boyong ke daerah Denpasar, disana ia akan menjadi pendatang baru setelah 13 tahun berada di desa kami, Pulukan. Mulai saat itu pekarangan rumah kami terasa sepi dari ocehan si beo.

Kini, tak ada lagi si beo yang kerap kali dijadikan objek mainan oleh si kecil Adit. Biasanya Adit usil memainkan sebatang kayu ke arah sangkar si beo. Sangkar yang dulunya tempat si beo kini dihuni oleh burung Cucak Ijo yang sebelumnya turut bersama – sama meramaikan lingkungan rumah kami.

This entry was posted in Hobbies and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s