Wartawan Sebagai Amanah

Walaupaun masih baru dan belum tau banyak hal, pengalaman pernah menjadi wartawan adalah sesuatu yang paling berharga bagi saya. Dunia wartawan penuh liku dan tantangan. Berada di garis terdepan dalam melaporkan segala peristiwa. Informasi yang dihimpun pada akhirnya bisa dinikmati oleh masyarakat luas atau khalayak. Sungguh sangat, mulia, berjasa dan berdampak pada kehidupan sosial.

Sebuah artikel tentang gambaran singkat sebagai seorang wartawan ketemu tanpa sengaja. Dalam artikelnya yang dimuat di kompasiana telah memiliki beberapa kesamaan pengalaman pada diri saya.

Philip Ayus menulis sebuah artikel, tentunya pasti berlatar belakang wartawan. Dalam tulisan berjudul WARTAWAN dimuat pada tanggal 22 July 2010 tersebut patut saya jadikan tambahan pengetahuan jurnalistik.

Di Indonesia, siapakah yang tidak “takut” kepada wartawan? Semua orang ingin terlihat baik di depan wartawan, demi pemberitaan yang mendukung citra baik mereka di masyarakat. Sebagai contoh, dulu ketika masih bertugas di lapangan, saya mendapat perlakuan yang berbeda, sebelum dan sesudah mengeluarkan kartu pers dari kantong saya. Tanpa kartu pers, pengurusan STNK berbelit-belit, tapi begitu saya mengeluarkan “kartu sakti” itu dari kantong, STNK baru saya langsung jadi tak lebih dari sepuluh menit! Bahkan ketika saya (tidak sengaja) melanggar rambu pun, pak polisi mengurungkan niatnya untuk menilang setelah saya dan teman mengeluarkan kartu pers kami, hehehe….🙂

Wartawan sesungguhnya adalah profesi yang mulia. Ia memberitakan apa yang dilihat, dirasa, dan didengarnya kepada khalayak. Ia menyampaikan beragam informasi–berat maupun ringan–kepada masyarakat. Ia–bisa dikatakan–berpihak dengan fakta dan kebenaran. Kita semua mengandalkannya untuk mendapat berita-berita yang terbaru dari berbagai tempat, karena ia punya akses ke hampir semua tempat di muka bumi ini–daerah konflik, rapat dewan, konser musik, bahkan kamar pribadi artis!

Akan tetapi, yang namanya manusia, wartawan pun ada salah dan luputnya. Tak jarang saya mendapati rekan-rekan pers yang saling mencontek berita di Press Room. Ada juga yang memanfaatkan kewartawanannya untuk mengintimidasi pihak lain, bahkan sampai berujung pada pemerasan. Dengan berbekal kartu pers dan argumentasi kebebasan pers, seorang wartawan yang tidak menyadari amanah yang diembannya bisa berubah menjadi monster yang siap memangsa pihak-pihak yang tidak disukainya.

Undang-undang Pers tahun 40 tahun 1999 membuktikan bahwa negara ini sangat menjunjung tinggi profesi wartawan. Wartawan memiliki kemerdekaan penuh dalam menggali dan menyebarluaskan informasi. Satu-satunya kewajiban pers hanyalah terhadap Hak Jawab dan koreksi berita. Oleh karena itulah, insan jurnalistik seyogyanya menghayati peran dan fungsinya bagi masyarakat. Peganglah profesi wartawan sebagai amanah, bukan hanya dari masyarakat, namun juga dari Tuhan YME, untuk menyampaikan kebenaran. Janganlah menuliskan berita yang membohongi publik atau peristiwa yang tidak dilihat secara langsung (kecuali mungkin untuk berita dari luar negeri). Berusahalah untuk menuliskan berita secara cerdas, berimbang, dan sedapat mungkin menginspirasi masyarakat untuk kebaikan bersama.

Maju terus pers Indonesia !

This entry was posted in Story and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s