Semarak Ogoh – Ogoh Desa Pakraman Pulukan

Berangkat dari Perempatan Setra Pulukan

Berangkat dari Perempatan Setra Pulukan

Beberapa orang  nampak antusias berkumpul memadati  persimpangan jalan antar banjar dan jalan raya antar propinsi. Sejak pukul  16.30 Wita, mereka menunggu sambil duduk di depan rumah. Menunggu datangnya arak – arakan ogoh – ogoh dari kedua banjar di Desa Pakraman Pulukan. Meliputi Banjar Delod Setra dan Banjar Baler Setra.

Pengrupukan tahun caka 1935, setidaknya ada 8 buah ogoh – ogoh berbagai rupa dan ukuran. Ada yang berbentuk Nara Singa, Babi Ngepet, Raksasa, dan Tokoh Kartun. Semua akan disusung dari anak – anak yang tergabung dalam sekehe muda – mudi. Tak kalah menarik, ada pula ogoh – ogoh ukuran kecil, ikut memeriahkan. Sosok raksasa mini, diusung oleh bocah – bocah  SD ( Sekolah Dasar ). Kehadiran Barong Bangkung juga turut menyemarakkan ritual pengrupukan kali ini.

Ada beberapa ogoh – ogoh dari bahan gabus ( Styreofoam ). Sebagian besar ogoh – ogoh ini terbuat dari bahan bambu dan kertas bekas. Walau nampak sederhana, tetap menonjolkan unsur seni dari usaha kerja keras sentuhan kreatifitas muda – mudi desa. Dana yang dihimpun berasal dari iuran masyarakat setempat, jumlahnya pun tidak terlalu fantastis. Cukup buat beli air mineral dan bahan lem serta ongkos konsumsi  buat  “ arsitek “ dadakan tersebut. Bahkan, ada pula ogoh – ogoh yang dibuat dengan modal pribadi dengan wujud yang sederhana.

Sebelum diarak, ogoh – ogoh ini terlebih dahulu dikumpulkan tidak jauh dari persimpangan Setra atau kuburan desa.  Dengan posisi berjejer semuanya berdampingan satu sama lain,  menunggu agar semua terkumpul untuk selanjutnya di upacarai serta diperciki air tirta oleh Pemangku. Kegembiraan anak – anak terpancar, mereka berseragam serba hitam serta tampil necis dengan gaya rambut dicat. “ Ini cat pilok, gampang hilang “, ujar salah satu bocah sumringah sambil merapikan tali sepatu.

Mentari mulai condong kebarat, begitu pun segenap pasukan telah siaga. Mulai dari petugas Pecalang, Polisi, Sekehe Belaganjur dan Kelian. Setelah menunggu aba – aba, satu persatu berangkat meninggalkan titik nol menuju arah selatan atau arah Delod Setra. Ogoh – ogoh ukuran mini yang diusung anak- anak meluncur duluan. Disusul ogoh – ogoh dari Delod Setra, berikutnya ogoh – ogoh dari Baler Setra dikawal Barong Bangkung  didampingi Mangku Pura Dalem Desa Pakraman Pulukan.

“ Surakang…yaaakkk…”, sorak – sorai pengusung menyeruak mengikuti alunan gambelan yang menyusul dibelakangnya. Sesekali iringan tersendat di tiap catus pada atau persimpangan jalan.

“ Lingserang…”, salah seorang pengusung berteriak memberi perintah. Ogoh – ogoh pun diputar mengikuti irama tetabuhan yang mengalun tinggi.

Sepanjang ruas jalan, satu persatu masyarakat berbondong – bondong turut sebagai pengiringnya. Tua – muda nampak larut dalam suasana, mereka nampak melupakan sejenak pekerjaan sehari – hari yang digelutinya. Ada yang sebagai petani, pedagang, maupun pegawai negeri sipil. Mereka tak ubahnya seperti air bah yang datang menyapu bersih semua kotoran.

Sebagian besar turun ke jalan berpakaian adat madya. Tanpa disadari mereka membentuk sebuah formasi, barisan paling depan ogoh – ogoh, segerombolan manusia, dan antrian sepeda motor sebagai ekornya. Dari jalan desa hingga jalan nasional yang menghubungkan Denpasar – Gilimanuk serentak menjadi lautan manusia. Ogoh – ogoh telah menyedot mereka untuk berbaur antara satu dengan lainnya. Begitu pula antara umat Hindu dengan non Hindu yang sengaja turut menyaksikan ritual setahun sekali menjelang Nyepi.

Setelah ogoh – ogoh menyambangi semua wilayah batas desa dan jalan. Luapan kegembiraan serentak mereda menjadi raut – raut wajah yang letih dan lelah diantara pengusung serta sekehe tabuh. Langit gelap mengiringi gerombolan ini untuk menuju kembali ke arah semula. Mereka nampak lusuh dan berpeluh. Semua nyaris tanpa ada yang berulah atau mabuk karena minuman keras. Ini terasa ketika saya berbaur dengan yang lain, aroma alkohol nyaris tak tercium. Polisi dan pecalang tetap setia sebagai pendamping hingga ke tujuan akhir.

Selanjutnya, sosok Bhuta Kala yang mereka usung di tamatkan dengan taburan bintang – bintang di langit sebagai saksi.

Tahap berikutnya, semua ogoh – ogoh yang baru diusung lantas  “ dieksekusi “ atau dibakar sebagai  bentuk untuk menetralkan diri kita, untuk kembali pada hal yang positif dan membuang yang negatif. Semua sejalan dari esensi Pengerupukan untuk menghilangkan Angkara Murka “ Bhuta Kala “, bukan untuk mencari Sensasi. Tanpa disangka, begitu semuanya berakhir  aman dan lancar, hujan pun turun lumayan lebat menyapu jejak – jejak sang “ Bhuta Kala “.

This entry was posted in Culture and Art and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s